Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

aisyahzshaki053Avatar border
TS
aisyahzshaki053
ISTRI YANG TAK DIINGINKAN

Rumah tangga bahagia adalah impian setiap istri. Apalagi bisa hidup bahagia membangun keluarga kecil sendiri, hidup mandiri tanpa bergantung pada orang tua maupun mertua. Sayangnya itu  hanya sebuah harapan saja, Saqila harus rela dengan hidupnya yang seolah hanya jadi benalu.

Saqila membuang napas lelah. Dari subuh tadi pekerjaannya tak kunjung selesai. Kadang dia merasa bukan menantu di rumah itu, lebih mirip pembantu, dituntut selalu menyelesaikan pekerjaan rumah layaknya asisten rumah tangga. Jika  tak selesai karena harus sambil momong anak, tak jarang ia dapat omelan.

Dia bersandar di sisi tempat tidur, meredakan penat sebentar. Menatap anak kecilnya yang sedang tidur pulas, seorang putri yang menjadi penguat selama ini.

"Hm, sehat terus ya, Sayang," gumam Saqila sambil mengusap kepala putri kecilnya.

Huh!

Dia cepat bangkit, menuju dapur, harus pintar memanfaatkan waktu disela anaknya tidur, jika tak begitu, Saqila akan kesulitan melakukan perkerjaan rumah sambil menggendong si buah hati.

"Eaaa ... maaa  ... maaa!" Benar saja. Suara tangis anaknya memanggil, dengan sedikit kecewa dia kembali menuju kamar.

"Kok, boboknya sebentar, Nak? Kerjaan mama masih banyak." Saqila memangku anaknya dan menyusui.

Anaknya tak tidur lagi, rewel dan itu menyulitkan Saqila menyelesaikan tugasnya.

Hari sudah mau sore,  dia belum sempat masak. Hari ini anaknya-Nisa- begitu rewel. Terbayang sudah kalau dia tak masak, suara rombeng mertuanya akan menggema di seluruh ruangan, sama sekali tak akan memahami keadaannya saat ini.

Segera dia ke dapur sambil menggendong Nisa, bagaimanapun dia harus masak, tak ingin adu mulut dengan ibu dari suaminya itu. Tangannya bergerak ke sana kemari mengolah masakan sambil badannya berguncang, demi mendiamkan Nisa yang rewel.

"Kamu sakit ya, Sayang, koq hari ini rewel?" Dipegangnya dahi Nisa. Badannya cukup hangat, pantas saja dari pagi Nisa menangis saja.

Tertt!

Telepon genggamnya bergetar.

[Qila, kamu lupa anterin uang arisan ibu? Itu Bu Neli nanyain, kirain udah dianterin, di rumah kamu ngapain aja?] Pesan dari Bu Asih, mertuanya.

Mertuanya mengomel. Duh ... kenapa bisa lupa. Saqila merutuki kelalaiannya.

[Iya, Bu. Qila anter sekarang.] Balasnya.

[Kebiasaan.] Mertuanya kesal.

Ditinggalkannya dapur yang berserakan, keluar menuju rumah Bu Neli. Nisa masih dalam gendongan, gadis kecilnya terus merengek-rengek, seperti menahan rasa sakit tapi tak mampu bercerita.

"Kirain nggak setor Qil." sambut bu Neli sambil membukakan pintu untuk Saqila dan mempersilakannya masuk.

"Tadi Qila lupa, Bu. Ini Nisa rewel," sahut Saqila, sambil menimang-nimang Nisa yang masih saja rewel.

"Kenapa, Nisa? Sakit ya?" tanya bu Neli penasaran.

"Agak panas badannya," jawab Saqila.

"Bawa ke dokter, Qil, jangan dibiarin." Nasehat Bu Neli sambil menatap Saqila iba, perempuan itu tau bagaimana sikap Bu Asih pada Saqila.

"Iya, Bu."  Saqila tersenyum, lalu pamit pulang.

Bagaimana dia bisa membawa Nisa ke dokter, uang yang diberikan mertuanya hanya cukup untuk membeli sayur dan lauk, itu pun dia harus pintar-pintar mengatur. Dia tak bisa menabung, karena memang semua sudah di pas. Terpaksa dia harus menunggu suaminya pulang.

Tiid...!

"Qila!" ada suara memanggilnya. Saqila menoleh, dia agak mengerutkan kening mengingat siapa yang memanggilnya. Oh, dia baru ingat.

"Eh? Iwan?"

Padahal Iwan sudah dia kenal sejak lama, tapi saking banyaknya yang dia pikirkan, sampai dia tak mengenali.

"Apa kabar, Qila?" tanya pemuda itu tersenyum pada Saqila, ada rasa yang tak dapat lelaki itu ungkapkan bisa bertemu perempuan yang selama ini dicarinya.

"Baik, Wan," jawab Saqila. Dia tersenyum. Sama gembiranya, ingin sebenarnya Saqila berlama-lama bertanya kabar, sudah sangat lama mereka tak bertemu, tapi tak ada waktu.

Iwan memandangnya lekat, ada rasa rindu pada sahabat yang pernah dia sukai diam-diam dulu itu. Lama dia tak bertemu, sekalinya bertemu terlihat banyak perubahan pada diri Saqila.

Wajah cantik Saqila yang dulu, sudah berubah. Sekarang badanya terlihat kurus, wajahnya kusam tak terurus. Hanya senyum Saqila yang masih terlihat sama. Masih terlihat manis.

Qila. Ah, aku rindu. Hati Iwan berkecamuk.

"Kamu dari mana, mau ke mana, Wan?" Saqila bertanya masih sambil mengguncang gendongan.

"Lagi cari alamat temen, Qila. Pas kamu lewat tadi, aku  seperti kenal, pengen memastikan, makanya aku tunggu di sini, ternyata benar itu kamu," jelas Iwan. Pandangannya tak lepas dari Saqila.

"Oh, keluarga sehat, Wan?"  Tanya Saqila.

"Alhamdulillah," jawab Iwan. "ini anak kamu?" tanyanya kemudian sambil mengusap gendongan bayi Saqila.

"Iya, Wan. Udah ya aku pulang dulu," pamit Saqila buru-buru.

Saqila teringat di rumah belum masak, orang rumah akan segera pulang. Apa kata orang pula kalau orang lain melihatnya sedang mengobrol dengan lelaki lain di luar rumah, dia sudah bersuami.

"Rumah kamu mana, Qila!" Iwan kembali memanggil Saqila yang mulai berjalan menjauh setengah berteriak, ia masih penasaran, seolah tak ingin cepat berpisah dengan teman masa kecilnya.

"Itu di depan, cat merah," jawab Saqila agak resah.

"Aku minta nomor kamu, Qila,"  pinta Iwan, lalu kembali mendekat.

Ragu-ragu Saqila memberikannya, tapi dia pun tak bisa menolak. Ah. Bagaimana kalau suaminya tahu? Saqila bimbang.

"Makasih ya, Qila," Iwan tersenyum.

Saqila angguk.

Iwan pamit, motornya melaju, berlalu pergi meninggalkan Saqila yang memandang punggungnya hingga menghilang dari pandangan.

****

Nisa benar-benar rewel, sulit bagi Saqila memasak dengan keadaan Nisa seperti itu. Sudah segala cara dia lakukan agar anaknya itu tak menangis. Sudah mencoba diberikan asi tapi tetap mengerang, badanya melenting-lenting tak mau diam di gendongan. Saqila merasa kewalahan.

Wahyu--suami Saqila--pulang dari tempat kerja, mendengar suara Nisa yang menangis kejer, dia merasa kesal. Lelah bekerja di toko seharian sementara di rumah disambut dengan tangisan anak kecil, ia naik pitam. Ah, Ingin saja dia memaki istrinya.

Wahyu bergegas menuju kamar, tanpa memedulikan suara tangisan anaknya, tubuhnya begitu lelah. Dia menganggap bahwa Saqila tak mampu menjaga anak, padahal mereka baru memiliki satu anak.

Melihat Wahyu datang, segera Saqila menyusul menuju kamar. Dia ingin meminta tolong suaminya itu, gusar mertuanya marah jika ia tak sempat memasak hari ini.

"Kak ... Qila titip Nisa ya. Qila belum masak," pintanya ragu-ragu.

"Kamu nggak punya mata ya, Qila? Suami baru pulang kerja bukanya di tawarin minum, malah suruh jaga anak. Kamu ngapain aja di rumah, hah? Baru punya anak satu aja sampai nggak sempat masak," marah Wahyu meledak juga akhirnya, biasa ia tak sekesal itu.

Memang Saqila hanya mengurus anak satu, tapi seluruh pekerjaan di rumah mertuanya Saqila yang pegang, ke pasar, memasak, antar jemput Naila--adik Wahyu--sekolah. Tetap saja dia dibilang tak ada kerja, hanya karena tak memiliki penghasilan.

"Udah sana, aku capek," usir  Wahyu pada Saqila.

Lunglai Saqila kembali menuju dapur.

Kenapa di rumah ini tak ada yang peduli, Nisa bukan hanya anaknya saja, Wahyu juga ayahnya, tetapi tak sedikit pun tampak rasa iba di mata lelaki itu.

💥💥💥

Di dapur Nisa menangis berterusan, sangat sulit menenangkan anak kecilnya itu, tak biasa Nisa begini. Mana mungkin juga dia bisa memasak dengan keadaan Nisa begitu. Terpaksa dia kembali ke kamar untuk memberikan asi sambil memudurkannya. Namun Nisa masih menolak dan terus menangis.

Wahyu yang berbaring di tempat tidur tetap saja diam, tak peduli dengan istrinya yang kerepotan menghentikan tangisan Nisa. Dia asyik dengan gawainya, dengan dunianya. Seolah tangisan anaknya itu adalah hal biasa.

"Kak, Qila minta uang, buat bawa Nisa ke dokter.  Sepertinya Nisa demam, dari pagi rewel terus."

Saqila mencoba mengajak bicara suaminya itu. Wahyu yang di ajak bicara tak menyahut, masih asyik dengan benda kotak pipih di tangannya.

"Kak?" Saqila mengguncang kaki suaminya.

"Kenapa sih aku nggak bisa tenang di rumah ini? Ada saja yang ganggu, aku cape, Saqila mau istirahat!" bentak Wahyu, kekesalannya kembali meluap.

"Qila cuma minta uang buat bawa Nisa ke dokter, Nisa sakit, Kak," ucapnya ikut kesal dengan tanggapan suaminya.

"Coba kamu kalau dikasih uang sama ibu tuh diirit, jangan suka-suka kamu habiskan sampai nggak bisa nabung sedikit untuk hal seperti ini, apa kamu bisa nggak menghasilkan uang? jangan  pintar minta aja. Jangan jadi istri yang bisanya menyusahkan," omel wahyu yang merasa tak tahan dengan sikap Saqila.

"Astagfirullah. Nisa ini anak kita, Kak." Hati Saqila perih, matanya panas menahan air di pelupuk matanya yang sudah tak terbendung.

"Aku nggak pegang uang, sana minta sama Ibu." Tanpa memedulikan, Wahyu berbaring membelakangi Saqila.

___

    Sementara di ruang makan, mertuanya sedang mengomel, merasa lelah pulang kerja, tetapi di rumah tak ada makanan yang terhidang seperti biasa. Ia kembali ke ruang tamu menghampiri suaminya sambil mengoceh.

"Si Qila ngapain aja sih di rumah, sampai nggak sempat masak?" Marah Bu Asih, kesal ketika ke dapur tak ada makanan terhidang di meja, dia lapar.

"Punya mantu kok malas sekali, sudah enak-enak  tinggal di rumah ini, tapi tak tau terima kasih," ocehnya lagi.

"Rumah nggak usah mengontrak, uang belanja tiap hari dikasih, kurang apa lagi coba? Enak nggak usah kerja cari uang, ongkang kaki di rumah. Masa cuma masak aja nggak sempat. Kalau gini terus bisa stres ibu, apa fungsinya dia di sini, kalau untuk mengurus rumah segini aja nggak becus." Bu Asih masih mengoceh. Suaranya sengaja di keraskan agar didengar menantunya.

Pak Hilman hanya menggeleng melihat istrinya marah-marah. Dia sudah bosan mendengar, tiap hari ada saja yang istrinya keluhkan, apalagi jika menyangkut menantunya, bisa panjang urusan.

"Bapak juga diam-diam aja, harusnya bapak dulu bisa larang, waktu Wahyu mau melamar si Qila itu, lihat sekarang, ibu yang reot," celetuk Bu Asih mulai mencari jalan pertengkaran dengan suaminya.

"Lho, kok nyalahin bapak?" sahut pak Hilman. Pandangannya tak berpaling dari koran yang  dipegangnya.

"Iya. Memang harus salahkan siapa lagi, sudah tau dari dulu ibu nggak setuju, Bapak yang menyetujui mereka menikah," ungkit Bu Asih.

"Sudahlah, Bu. Bapak juga capek." Pak Hilman memilih bangkit, pergi ke kamarnya, malas melayani ocehan istrinya yang tak akan berhenti.

Saqila menitikkan air mata, mendengar ucapan mertua yang jelas terdengar olehnya, niatnya meminta uang untuk berobat Nisa ia urungkan.

***
rinandya
zafranramon
jiyanq
jiyanq dan 7 lainnya memberi reputasi
6
4.1K
43
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
aisyahzshaki053Avatar border
TS
aisyahzshaki053
#10
Kepulangan Dina
Sepulang dagang Saqila berjalan menuju rumahnya, dari jauh Saqila melihat seorang perempuan duduk di depan teras rumahnya. Setelah Saqila sampai di depan rumah, Saqila terkejut.

"Kak Dina?"

Dina menoleh, terkejut melihat Saqila ada di hadapannya.

"Saqila!"

Mereka berhambur saling berpelukan, sudah sangat lama adik dan kakak itu tak bertemu. Air mata keduanya luruh, lama dan erat keduanya berpelukan hingga Bu Dewi datang.

Bu Dewi pun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Dina. Anaknya yang sudah sangat lama ia rindukan, karena jarak yang memisahkan, menyulitkan mereka untuk bertemu, terakhir kali mereka bertemu di pernikahan Saqila berapa tahun lalu. Sajak saat itu tak pernah lagi terdengar kabar Dina, Saqila sering menghubungi nomor ponsel Dina, tapi sudah lama tak aktif.

"Ibuu!"

Pelukan Saqila dilepasnya, berganti tergopoh ke pelukan Bu Dewi, tangis mereka pecah melepas kerinduan yang selama ini terpendam.

"Kapan sampai, Din? Kamu kesini sama siapa? Mana Aira, kenapa nggak dibawa?" Bu Dewi mengelus rambut Dina. Aira adalah anak Dina.

Mendengar pertanyaan ibunya, tangis Dina malah makin tersedu. Rasa pilu, sedih dan kecewa berkecamuk di hatinya. Entah apa yang harus dikatakan pada ibunya.

Bu Dewi dan Saqila mengajak Dina masuk, anaknya pasti lelah. Bu Dewi beranjak ke dapur untuk membuatkan Dina makanan; Saqila mengajak Dina ke kamar untuk beristirahat. Saqila memandang wajah kakaknya yang teduh dan sayu.

"Kak Dina, istirahat dulu ya. Aku beresin baju-baju kakak," ucap Saqila.

Dina mengangguk, "terima kasih ya, Qila," balas Dina.

"Sebenarnya Kakak ada masalah apa? Kenapa Aira nggak dibawa sekalian? Kasihan Aira, pasti dia sedih jauh dari mamanya." Saqila menatap Dina, tangan Saqila masih memegang baju Dina yang sedang Ia keluarkan dari koper untuk disimpan di dalam lemari ibunya di bagian yang masih kosong.

Dina hanya menggeleng lemah, air matanya yang menjawab pertanyaan Saqila. Melihat Kakaknya begitu, Saqila tak melanjutkan lagi pertanyaannya. Selesai semua baju Dina dirapikan, Saqila kembali menghampiri Dina yang masih terisak di tepi ranjang.

Saqila berusaha menghibur sebisanya, ia juga bercerita tentang kisah rumah tangganya dengan Wahyu. Dina sangat sedih dan simpati, ternyata adiknya juga bernasib kurang baik dalam urusan pernikahan.

****

Satu minggu sudah Dina tinggal di rumah ibunya, tapi dia masih tak ingin bercerita tentang kedatangannya tanpa Aira dan suaminya. Dina yang selama seminggu hanya di rumah, kini dia mulai keluar melihat-lihat kampung halaman yang sudah lama Ia tinggalkan, Dina juga mulai membantu aktivitas berdagang sang Ibu.

"Mama...! huk huk." Suara anak kecil memanggil Dina dan berlari ke arahnya sambil menangis. Dina terkaget melihat kehadiran suami dan anaknya yang begitu tiba-tiba.

"Airaaa...." Dina berhambur ke arah anaknya, dia ikut menangis tak kuasa menahan rindu. Dipeluk dan diciumnya Aira.

"Maafkan Mama, Sayang."

Saqila dan Bu Dewi ikut berlari menghampiri Aira. Mereka memeluknya, Bu Dewi terus saja memeluk dan menciumi pipi cucunya itu. Begitu sayang dan rindu, sekian lama baru bisa bertatap muka.

Erik menatap Dina dengan wajah marah, dia kesal pada sikap Dina yang meninggalkannya dan Aira begitu saja.

“Kenapa kamu kabur dari rumah, Dina? Tega kamu tinggalkan aku dan Aira!" Erik menatap Dina tajam.

"Kabur? Harusnya kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan sama aku, nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api!" jawab Dina menatap Erik marah.

"Ayo kita bicarakan di dalam, ini di luar, Nak. Malu jika tetangga lihat," ujar Bu Dewi mengajak anak dan menantunya masuk.

Erik dan Dina masuk, duduk di ruang tamu; Bu Dewi dan Saqila membawa Aira ke kamar, lalu membawakannya makanan. Pasti cucunya itu lapar, wajah cucunya lusuh sekali sepertinya sangat lelah. Sedangkan Saqila menuju ruang tamu untuk jadi penengah masalah antara Dina dan Erik.

"Aku datang ke sini untuk minta pertanggung jawaban kamu, Dina. Tentang hutang yang sudah kamu pinjam ke saudara-saudaraku, dan itu tanpa sepengetahuan aku. Dan apa kamu nggak sadar jumlahnya sampai empat puluh juta? Itu belum termasuk hutang ke tetangga lain dan ke warung-warung. Istri macam apa kamu ini? Dari mana aku bisa membayar hutang-hutang kamu itu? Kenapa bisa sampai sebanyak itu?" tanya Erik mulai meradang. Ia mengusap wajah, tak percaya kepergian Dina ternyata meninggalkan banyak hutang, ia pun terpaksa menyusul karena tak tahu harus bagaimana membayar hutang sebanyak itu.

"Harusnya kamu sadar, kenapa aku bisa pinjam uang sebanyak itu. Dua tahun lalu ibumu stroke, dari mana aku bisa bayar biaya rumah sakit Ibu? sedangkan kamu kasih uang untuk makan saja nggak cukup. Dari mana biaya hidup untuk kami? Sedangkan kamu menafkahi kami seenak hati." Suara Dina bergetar menahan marah.

"Kamu nggak bisa seenaknya begini, Dina, sebelum pinjam, harusnya ada izin dari aku."

"Gimana aku bisa izin, apa kamu selalu ada di rumah? Bukanya hobi kamu itu cuma mancing dan judi?"

"Jangan keterlaluan kamu!"

"Kenapa? Kamu malu aku buka keburukan kamu di depan keluarga aku?"

Dina tinggal serumah dengan mertuanya, dua tahun lalu mertuanya terkena stroke. Dina meminjam uang pada sanak keluarga Erik, untuk biaya pengobatan. Bahkan Dina sampai menjual telepon genggam yang ia beli dulu sewaktu masih belum menikah dengan Erik, itulah sebabnya Dina tak pernah menghubungi ibunya.

Saudara Erik cukup baik dan selalu membantu ketika Dina menghadapi masalah. Apa pun yang Dina butuhkan, mereka salalu memberi pinjaman. Namun Erik malah lepas tanggung jawab, memberi uang belanja hanya semaunya, dia berpikir bahwa Dina selalu punya uang.

Padahal untuk biaya hidup sehari-hari, Dina harus banting tulang menjadi buruh cuci, uang yang Dina pinjam hanya untuk biaya berobat mertuanya. Sedikit demi sedikit, lama-lama hutang Dina menumpuk juga. Saudara-saudara Erik yang selama ini baik pun gerah juga, karena sudah beberapa tahun Dina tak kunjung membayar hutangnya. Setiap Dina minta pada Erik, tak pernah diindahkan oleh suaminya itu.

Uang hasil kerja Erik kebanyakan untuk judi online, bahkan untuk main perempuan juga yang belakangan diketahui Dina. Sudah jauh-jauh hari Dina minta pulang dan minta cerai, tapi Erik tak pernah peduli. Pikirnya, Dina tak mungkin bisa pulang ke pulau Jawa, uang ongkos saja dia tak punya. Tak akan cukup uang sedikit jika dia ingin pulang.

Ketika Dina sudah memutuskan untuk tetap pergi dari rumah mertuanya. Erik malah membawa Aira kabur, lagi-lagi Erik menjadikan Aira sebagai tameng, Erik tahu kalau Dina tak mungkin bisa meninggalkan Aira. Ternyata dugaan Erik salah, Dina tetap pergi tanpa Aira.

Menahan segala sedih dan rindunya harus berpisah dengan sang buah hati, ia tak punya pilihan karena sudah sangat tak tahan dengan kehidupan bersama Erik. Dina berjuang sendiri untuk menghidupi anak dan mertua, tanpa tahu fungsi Erik sebagai suami yang seharusnya mengayomi dan memberinya kehidupan yang layak.

"Aku nggak mau tau, kamu yang pinjam uang, jadi kamu harus bayar!" tegas Erik tak mau tanggung jawab.

"Harusnya kamu yang bayar hutang-hutang Kak Dina, kamu yang harusnya tanggung jawab, kamu itu kepala keluarga. Sekarang, kamu malah datang ke sini minta Kak Dina yang bayar, kamu gila, hah?" Saqila marah mendengar cerita Dina, tak sangka Erik berbuat begitu pada kakaknya. Rasa hormat Saqila hilang sudah, tak sudi Saqila memanggil lelaki yang menyakiti kakaknya dengan sebutan ‘kakak’.

Wajar saja kakaknya itu kabur, bukan dijadikan suri dalam rumah tangga, malah dijadikan budak.

“Kamu jangan ikut campur, ini masalah aku dan Dina,” sinis Erik pada Saqila.

“Jelas aku akan ikut campur, Dina ini kakakku, kalau sudah di sini, kamu nggak bisa seenaknya.” Saqila makin meradang.

“Harusnya kamu mikir, Erik.” Dina menimpali.

Erik kehabisan cara, melihat Dina yang dibela Saqila. Ia tersudut karena perbuatan Dina itu dipicu olehnya.

"Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi sekarang aku dalam masalah gara-gara hutang itu, semua saudaraku menagih padaku, kalau nggak di bayar juga, rumahku akan dijual paksa. Lalu ibuku yang sakit mau tinggal di mana? Cuma aku anak satu-satunya, bukan itu saja, Dina, waktu kamu pulang, kamu pinjam uang ongkos dari tetangga ‘kan? Aku yang kena imbasnya, tetangga marah menagih padaku." Suara Erik melunak, dia mulai mengiba.

Tak ada jawaban dari Dina, dia hanya mematung tak tahu harus bagaimana. Memang benar dia yang meminjam uang ke sana ke mari, tapi itu bukan salahnya, harusnya Erik yang menanggung segala kebutuhan mereka, bukan Dina.

"Untuk sementara aku akan bawa Aira ke Jakarta, aku akan tinggal di rumah saudara di sana. Kalau kamu ingin Aira ikut kamu, aku kasih waktu satu minggu, kamu harus bisa cari uang atau pinjaman. Aku akan ke sini lagi bawa Aira setelah kamu punya uang, aku janji," ujar Erik dengan seenaknya membebankan masalah hutang pada Dina.

"Enak saja kamu, aku nggak bakal ngasih Aira, nggak! Nggak mau!" teriak Dina pada Erik.

“Jangan gila kamu, Erik,” bentak Saqila ikut kesal.

Tanpa memedulikan kemarahan dua perempuan di hadapannya, Erik berjalan menuju kamar Bu Dewi, Aira yang sedang disuapi, diambil paksa dan dibawa keluar. Saqila dan Dina menahan Erik, tapi Erik menerjang memaksa ke luar. Bu Dewi meraung melihat Aira dibawa Erik. Saqila menghadang di depan pintu, Erik tak bisa berkutik.

"Airaa jangan pergi, Sayang." Dina memegang tangan Aira.

"Mama, Aira ikut ayah dulu, Mama jangan nangis, nanti Aira ikut Mama," ucap Aira.

"Kamu harus ikut mama, Sayang, mama sedih jauh dari kamu."

"Kata ayah, Mama harus cari uang untuk bayar hutang, ayah janji sama Aira kalau Mama sudah punya uang, Aira bisa tinggal sama Mama sama Nenek," lanjut Aira lagi.

“Nggak, Sayang. Kamu di sini ya sama mama,” lirih Dina.

“Nggak, Ma. Aku ikut ayah dulu.” Aira kukuh.

Tega sekali Erik menghasut anak kecil untuk memuluskan rencananya. Aira baru enam tahun, kenapa harus Aira yang dimanfaatkan. Saqila geram, tetapi tak bisa menghalangi lagi jika Aira sendiri yang meminta ikut ayahnya.

"Aku janji akan bawa Aira kembali ke sini setelah seminggu, tolong bantu aku dapatkan pinjaman," ujar Erik dia berlalu meninggalkan Dina yang masih menangisi anaknya.

***

Lanjutannya ada di komentar berikutnya ya Gan, terus aja scroll ke bawah
Diubah oleh aisyahzshaki053 25-10-2021 08:17
khuman
jiyanq
redrices
redrices dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup