kutarominami69Avatar border
TS
kutarominami69
Dukung Kesetaraan Gender, BRIN Kaji Peran Penting Perempuan di Berbagai Bidang
Dukung Kesetaraan Gender, BRIN Kaji Peran Penting Perempuan di Berbagai Bidang

Diterbitkan pada sehari yang lalu



Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) bekerja sama dengan Direktorat Kepercayaan dan Masyarakat Adat (Dir KMA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendibudristek), serta Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) menyelenggarakan diskusi dalam webinar tentang “Kiprah dan Peran Perempuan bagi Bangsa”, Selasa (30/4). Kegiatan tersebut sebagai upaya memperingati Hari Kartini, setiap 21 April, yang menandai perjuangan kaum perempuan untuk hadir dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Dalam rangkaian sambutan, Engkus, Ketua MLKI menekankan pada nilai-nilai kesetaraan dan memberikan peran kedudukan bagi kaum perempuan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu karena, di dalam nilai-nilai kearifan lokal dan spiritual dari leluhur bangsa ini, tidak ada perbedaan antara laki laki dan perempuan. “Sejak zaman leluhur, perempuan punya peran strategis. Kiprah perempuan Nusantara ini tidak lepas dari nilai-nilai yang dianut, menyangkut kesetaraan,” terang Engkus. 

Lalu, Direktur KMA Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi ingin kegiatan semacam ini sangat meningkat dan berdampak bagi eksistensi organisasi. Sebab, ia berpendapat yang sama, peran perempuan sangat strategis menjadi garda utama dan juga transfer pengetahuan. Untuk mengimplementasikannya, direktorat yang ia pimpin menggulirkan program yang khusus untuk memajukan peran perempuan. “Melalui diskusi publik ini, saya berharap ada gagasan muncul dan kami akan tindaklanjuti dengan membentuk tim untuk menginventarisasi kebutuhannya. Kami bisa menggandeng mitra kerja agar berperan aktif seperti yang dilakukan MLKI dan organisasi lainnya,” gagasnya.

Dalam diskusi, dihadirkan para penyaji di berbagai bidang keahlian. Mereka yaitu Dwi Setiyani Utami selaku Ketua Puan Hayati Jawa Tengah, Zakiyah dan Sitti Arafah selaku Peneliti PRAK BRIN, dan juga Syamsurijal sebagai Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban.

Dalam sambutannya juga, Kepala PRAK BRIN, Adji Sofanudin menekankan kegiatan semacam ini merupakan tuntutan bagi periset untuk memproduksi pengetahuan dan tentu saja harus memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dwi Setiyani Utami memaparkan tema “Kiprah Perempuan Penghayat Kepercayaan dalam Masyarakat”. Ia menggambarkan peran perempuan penghayat kepercayaan dalam semangat kebangsaan. Artinya, bagaimana seorang penghayat harus memiliki kapasitas diri sebagai pribadi yang teguh dalam menjalankan keyakinannnya, menjalani kehidupan bersama keluarga, sekaligus sebagai pelaku sosial yang berperan dalam mengharmonisasi peran dan tanggung jawab sosial di lingkungannya.

Menurutnya, perempuan penghayat harus aktif menghidupkan kegiatan spiritual, baik itu di sanggar pribadi dan juga tempat peribadahan, juga pemujaan spiritualnya. Sebagaimana ia contohkan dengan beberapa dokumentasi kegiatan kelompok penghayat kepercayaan yang ia pimpin. “Mereka turut serta ambil bagian dalam semangat perjuangan melalui organisasi, juga penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME, dalam kepentingannya untuk mencapai rekognisi dan hak -hak konstitusional yang ada di Indonesia,” urainya.

Sedangkan Zakiyah, melalui tema “ Aktivisme Perempuan pada Majelis Taklim” menguraikan terkait dengan aktivitas perempuan pada majelis taklim. Menurut pengamatannya, ada pergeseran otoritas dalam Islami. Namun demikian, di sisi lain, perempuan berperan dalam perubahan sosial, misalnya pendidikan ekonomi, pemberdayaan perempuan, dan lainnya. “Perempuan merupakan tempat untuk menyemai pemahaman Islam. Ada juga pihak yang mengatakan ada domestifikasi peran perempuan di dalam keluarga,” ungkapnya. 

Zakiyah menambahkan, mereka ini sebagai masyarakat sipil untuk transformasi sosial atau perubahan sosial. Sebab, di dalam kegiatan – kegiatan, mereka juga melakukan pemberdayaan perempuan. Seperti pemberdayaan ekonomi, sebab sebelum dan sesudah pengajian rutin mereka melakukan aktivitas ekonomi. “Kemudian yang tidak kalah penting, yaitu peranan dalam menciptakan ruang publik bagi perempuan, sebagai media untuk mobilitas perempuan. Hal ini semacam media konektivitas perempuan antara ruang domestik dan ruang publik, sebagai media silaturahmi” urainya. 

Selanjutnya, Sitti Arafah memaparkan tema ”Perempuan Bugis dan Transmiter Keilmuan Gurutta Sitti Aminah”. Ia menjelaskan, sebagai seorang ulama perempuan Bugis, Gurutta Sitti Aminah, punya peran penting pada lembaga pendidikan maupun pengabdiannya kepada masyarakat, terutama dalam hal keagamaan. Dijelaskan Sitti, sosok ini mengambil pengalaman dari prinsip perempuan Bugis, bahwa sepintar-pintarnya seorang perempuan kelak hanya tinggal di rumah dan setinggi-tingginya pendidikannya, maka akan terjun ke dapur juga. Karena itu, maka ia ingin, seorang perempuan yang sudah berkeluarga hendaknya menjadi guru di dalam rumah tangga. Dengan demikian mereka bisa menjaga kehormatan suami. Ini yang dianggap sebagai perempuan ideal. 

Sitti berpendapat, perempuan Bugis bisa dikatakan berani dan bijaksana, jika tugas utama dari seorang perempuan adalah menjadi Ibu yang solehah, baik, dan tulus. Jadi perempuan harus bisa menjadi induk, panutan suami yang jujur, hemat, bijaksana, juga sebagai mitra pendukung dan penopang dalam mengatasi segala kesulitan.

Terakhir, Syamsurijal memberi paparan dengan tema “Peran Perempuan dalam Masyarakat Berbasis Agama dan Kepercayaan”. Ia membuka wacana tentang gerakan feminisme di negara barat yang sudah terjadi sejak abad 17 sampai 19. Sementara kalau melihat kiprah perempuan di Indonesia, abad ke-15 sudah banyak sekali perempuan nusantara yang punya kiprah luar biasa di bidang Pendidikan, penganjur agama, dan militer. Misalnya, Laksamana Malahayati yang menunjukkan bahwa perempuan itu tidak hanya bergerak di ruang yang selama ini dikategorikan domestik. Tetapi perempuan juga bisa menjadi laksamana panglima perang dan menggerakkan para perempuan dan janda - janda untuk melakukan perlawanan terhadap kompeni. Contoh lain, Ny Ageng Pinatih, Nyai Mas, yang dengan gerakan perempuannya mendahului gerakan feminisme yang terjadi di barat.

Ia menambahkan, dalam agama dan kepercayaan yang berkembang di Nusantara tidak dikenal pembagian peran yang ketat. “Perempuan harus di ruang domestik dan laki-laki bekerja di ruang publik. Perempuan sebagai subjek, ternyata tidak beridentitas tunggal. Maka terjadi intersectionality yang menurut Kimberie Crenshaw individu (Perempuan) adalah seperangkat identitas yang satu sama lain saling berkelindan. Identitasnya tidak tunggal (misal hanya ibu rumah tangga) tetapi beragam dan hadir sesuai dengan konteks dan relasi yang terbangun,” tutupnya. (noor/and,jml)

https://www.brin.go.id/news/118415/d...erbagai-bidang

Setuju banget

lepas.monas
lepas.monas memberi reputasi
-1
205
24
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Tampilkan semua post
gunliejackAvatar border
gunliejack
#15
BRIN ini fungsinya apa sih?? habisin anggaran negara saja??
emansipasi wanita di RI sudah tegak sejak nama RA Kartini tercetak di buku sejarah indo....

basi amat kajiannya....

tolong bubarin aja BRIN gak guna macam gini...
0
Tutup